Abaikan Geopolitik Iran, Mengapa Kita Tak Perlu Sibuk dengannya?
Akhir tahun 2025 hingga awal 2026 ini, ruang publik kita sesak oleh pemberitaan krisis multidimensi di Iran. Kerusuhan massa terbesar dalam sejarah modern Iran pecah, dipicu oleh akumulasi keruntuhan ekonomi pasca Perang 12 Hari pada Juni 2025 dan sanksi snapback PBB yang mengisolasi negara tersebut.
Mata uang Rial terjun bebas hingga menyentuh angka psikologis 1,4 juta per 1 USD. Akibatnya, harga kebutuhan pokok (daging, susu, telur) melambung lebih dari 70%. Ketidakstabilan ini kian meruncing seiring tumbangnya proksi strategis mereka, mulai dari rezim Asad di Suriah hingga melemahnya Hizbullat dan Houtsi. Kini, mata dunia tertuju pada kemungkinan serangan darat Amerika dan intervensi Israel, mengalihkan perhatian kita dari isu dunia lainnya, pasca hiruk pikuk Venezuela.
Pertanyaannya kemudian, apakah kita sebagai muslim turut menyibukkan kita pada isu-isu internasional tersebut? Perlukah kita mengikuti perkembangan berita, menyimak analisis para pengamat atau turut mendiskusikan dinamikanya?
Jawaban pertanyaan tersebut tergantung dari satu hal: Apakah situasi itu berdampak pada harakatul kaun (pergerakan getaran alam semesta)? Dalam arti, apakah peristiwa tersebut berkaitan dengan apa yang mendatangkan murka Allah atau apa yang menurunkan rahmat Allah.
![]() |
| Ebook Getar Kehidupan. |
Peristiwa yang terjadi di Iran dan sebelumnya di Venezuela… Peristiwa rencana aneksasi Greenland oleh Amerika yang memicu krisis geopolitik antara Amerika, Denmark dan Uni Eropa… Peristiwa pendudukan Rusia pada Ukraina atau peristiwa lainnya… Apakah peristiwa-peristiwa tersebut membuat Allah murka atau menjadi sebab turunnya rahmat Allah?
Apakah ada faedahnya Nicolás Maduro diculik Amerika di istana Kepresidenan bagi keimanan kita? Apakah ada faedahnya Rusia meraih kemajuan merebut Kupyansk dari Ukraina bagi tauhid kita? Serta apakah ada faedahnya bagi keimanan dan tauhid kita apabila rezim Khomeini dijatuhkan dan berganti dengan rezim thaghut lain?
Jawabannya adalah: Tidak.
Siapapun pemenang dalam konflik-konflik tersebut tidak ada manfaatnya bagi keimanan dan tauhid kita. Mengapa demikian?
Syeikhuna Umar Mahmud Abu Umar hafizhahullah dalam makalahnya berjudul Harakatul Hayah yang telah saya terjemahkan atas fadhilah Allah dengan judul Getar Kehidupan menyampaikan alasannya:
Apapun peristiwa jika tidak ada pengaruh iman maka peristiwa tersebut menjadi tidak penting.
Tuntutan masyarakat Iran saat ini adalah mengganti rezim Pemerintahan “Syiah” Iran dengan model demokrasi sekuler, baik berbentuk monarki atau republik. Apakah tuntutan tersebut ada hubungannya dengan iman dan tauhid? Tidak ada.
Konflik jahiliyah versus jahiliyah tidak memiliki pengaruh hakiki di alam semesta. Allah tidak menurunkan rahmat pada peristiwa yang kosong dari iman. Nilai dan harga segala sesuatu di dunia ini hanya terletak pada perkara iman. Dunia ini tidak ada harganya di sisi Allah ta’ala apabila kosong dari iman. Allah berfirman:
إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu ibadahi selain Allah, adalah umpan Jahannam.” (Al-Anbiya: 98)
Dinamika politik Iran bergeser menjadi penting jika muncul suatu gerakan Islam Sunni yang turut mengambil peran dalam menjatuhkan rezim Rafidhah seperti kemunculan revolusi Ahlus Sunah melawan rezim Syi’ah Nushairiyah di Suriah. Pada saat itulah kita menjadikan krisis Iran menjadi isu umat Islam yang patut diperhatikan.
Baca atau unduh ebook terjemahan Harakatul Hayah (Getar Kehidupan) karya Syeikhuna Umar Mahmud hafizhahullah di tautan berikut:
Saya juga meletakkan source code ebook tersebut dalam format Open Document Format di Github
Download buku saya lainnya di Internet Archive.
Download source code buku saya lainnya di Github.
– Zen Ibrahim hafizhahullah, 2 Sya’ban 1447 H / 21 Januari 2026 M
