Imad Aqil; Mengapa Pemuda Hari Ini Membutuhkan Sosok Legenda, Bukan Sekadar Teori?


Catatan Penerjemah.

Bismillah.

Tulisan yang sedang Anda baca bukan sekadar resensi buku biasa. Ia adalah sebuah teguran keras sekaligus pengingat yang menghujam jantung, ditulis oleh guru kami, Syeikhuna Umar Mahmud Abu Umar hafizhahullah. Sebuah resensi dari kitab Imad Aql Usthurotul Jihadi wal Muqowamah (عماد عقل أسطورة الجهاد والمقاومة) karya Ghasan Daw’ar.

Mengapa saya merasa perlu menerjemahkan (2019) dan kemudian merevisi kembali (2026) tulisan ini?

Sebab hari ini, kita hidup di zaman di mana semangat beragama para pemuda seringkali berakhir menjadi sekadar komoditas. Kita melihat banyak “panggung” dakwah yang megah, namun kering dari ruh pengorbanan. Kita menyaksikan lisan-lisan yang fasih bicara tentang akhirat, namun tangannya begitu erat menggenggam dunia.

Melalui sosok ksatria Imad Aqil, yang dijuluki oleh Israel sebagai legenda, Syeikh Umar Mahmud ingin mengajak kita melihat kontras yang nyata: antara mereka yang menjadikan agama sebagai jalan menuju syahadah, dengan mereka yang menjadikan agama sebagai alat perniagaan syahwat duniawi.

Semoga terjemahan yang sederhana ini menjadi amal jariyah bagi penulisnya, bagi saya yang menerjemahkannya, dan bagi Anda yang tergerak hatinya untuk meniti jalan para ksatria yang tulus.

— Zen Ibrahim

Membaca Sirah Bahan Bakar Keteguhan Hati

Perkara yang menguatkan tsiqah pada Allah, membuat ibadahmu menjadi semakin baik, memperkuat pencapaianmu pada jalan tsabat dan sabar serta menanggung beban yaitu dengan membaca sirah kesatria agung yang berlalu di jalan ini. Menelaah sejarah iman dan jihad fi sabilillah ta’ala terus berlanjut tanpa putus.

Dari tanah lapisan-lapisan umat dan dari rahim wanita-wanita suci Allah pilih untuk-Nya para kesatria. Dengannya terukir izah dan keperwiraan mendaki ke medan syahadah dan tsabat. Hingga tanah bertransformasi menjadi rumus yang mencerahkan manusia agar mereka tidak jumud.

Jangan Biarkan Kalimat Syuhada Hanya Menjadi Pajangan Meja

Betapa indahnya jika harimu dimulai dengan membaca sirah kesatria, mereka bagian darimu dan kamu bagian dari mereka. Mereka adalah manusia yang membenamkan makna dalam lubuk terdalam manusia.

Kitab ini tidak boleh hanya kamu jadikan bacaan saja setelah itu kamu simpan di lemari. Lalu kamu tidak mencermati perkataannya setelah dia syahid. Padahal kalimat-kalimat itulah yang membuat kitab ini menjadi sangat berbobot. Jangan sampai susunan kata yang mengalir seperti alunan syahdu tidak mampu meresap dalam sanubarimu, membuat kalimat-kalimat itu hanya sekadar kata kosong.

Ketika Iradah Bukan Sekadar Khayalan

Aku tidak suka ketika membaca sirah kesatria hanya mengambil informasi yang tertera dalam tulisan itu saja. Tanpa menambah tulisannya dan memperluas kazanahnya. Aku lakukan ini supaya lebih yakin. Seperti yang dilakukan penulis pada kesatria pemuda yang agung Imad Aqil. Dengan perbuatannya saja, cita-cita dan kemauan saja, mampu membuat dirimu terpengaruh dan ingin berbuat seperti apa yang dia lakukan.

Kisah yang paling ajib pada pemuda kestaria ini, Imad Aqil, dia membuat banyak hal yang tidak pernah terbayangkan. Iradahnya hidup bukan khayalan. Dia membuat hal tersebut untuk satu kepentingan yaitu mati syahid. Maka dia buat sesuatu yang besar dan berhak mendapat derajat tinggi dengan syahadah atas izin Allah.

Bara di Hati Pemuda yang Mencari Ridha Allah

Sirah seperti Imad Aqil jika diceritakan dengan sebenarnya tanpa dimanipulasi memberikan kekuatan pada pemuda Islam, tujuan hidupnya menjadi baik dan keinginan untuk bergabung dengannya dan tertawan dengan apa yang dia peroleh. Mereka mencari ridha Allah dan masuk ke barisan syahadah yang tak henti terputus. Sebab sirah Imad Aqil menjadi bara di hati laki-laki dan menjadi iradah.

Ketika engkau membaca sirah orang syahid yang agung ini, kamu akan merasakan cinta para pemuda yang mengelilinginya. Senyum di pipi mereka mengembang. Kamu akhirnya tahu jika umat ini belum mati, rahim ibu-ibu kita belum mandul, meskipun dengan minimnya tarbiyah imaniyah di medan jihad -dan jihad itu sendiri- para pemuda ini tetap mengejar kesyahidan. Mereka memberikan sumbangsih kehidupan ini dengan seluruh kemampuan yang mereka miliki.

Waspada Perangkap “Syeikh Dajal” dan Pedagang Agama

Kita melihat banyak para pemuda yang semangat beragama hari ini jatuh dalam perangkap para syeikh dajal dan pendusta. Sebabnya satu, medan para syeikh tersebut meletakkanmu pada posisi sebagai pembeli bukan apa yang kamu korbankan pada Islam.

Jalan para pedagang agama, jalan untaian kata-kata indah dari para salaf yang agung tapi beriring syahwat dunia dan kenikmatannya. Ruh ini akhirnya hilang atau para pemuda terbelokkan pada kesibukan syahwat karena mereka menduplikat gurunya. Sehingga terproduksi generasi dengan karakter yang lebih buruk nan lemah.

Pemuda adalah pemuda. Geloranya dan semangatnya menyala-nyala, gairahnya membara, iradah dan semangatnya seringkali tak ada yang mampu menghentikannya. Tetapi pemuda-pemuda itu dapat terperosok jatuh dalam kubangan dunia dengan memanfaatkan agama atau pemuda yang hidup dengan syahwatnya.

Kembali ke Jalan Kakek-Kakek Kita

Seandainya para pemuda tersebut hidup dalam medan jihad dan cinta pada syahadah tentu mereka akan menggoreskan sejarah yang menyamai sejarah kakek-kakek mereka. Sebab itu wajib mencari potret dan tarikh sirah seperti orang-orang yang mulia terpilih tersebut.

Siapa yang tidak mau menengok sirah para kesatria hakikatnya tidak memahami dien ini kecuali apa yang telah diberikan oleh syeikh. Mereka yang akan memahami yaitu siapa yang mencari sirah-sirah para kesatria; dia akan berkorban, mentauhidkan Allah dan rindunya menggelora mencapai syahid.

Jarak pendek antara loncatan seseorang dari maksiat ke zona memasuki medan jihad dan jalan syuhada dengan mereka yang membuatnya padam dan jalannya semakin panjang bahkan membuat putus asa untuk mencapainya, merekalah yang melemparkanmu ke dalam pangkuan kemalasan, dunia dan syahwat. Seperti yang dilakukan orang-orang yang mencela syahadah dan jalan menggapainya.

Maka terciptalah orang-orang semangat agama tapi tidak memiliki akal sehat, iradah, ketaatan dan pengorbanan. Tapi muncul orang-orang yang banyak omong yang hanya merangsang kemandulan iman.

Prestasi generasi pertama yang diikuti oleh para pemuda seperti Imad Aqil, hanya dengan terjun ke dalam jalan ini; yaitu jalan jihad, pengorbanan dan kerinduan mencapai negeri akhirat.

Penutup: Perniagaan yang Takkan Pernah Merugi

Seluruh pasar hanya menerima pembeli dari orang-orang seperti Imad Aqil, tidak ada yang bisa mendapat ghanimah paling mahal kecuali syuhada. Sedangkan dalam timbangan orang-orang yang merugi, para kesatria cuma kompor bagi orang semacam Imad Aqil untuk mencapai tujuan!

Duhai kasihan manusia yang mengorbankan keuntungan dengan kekayaan yang lain! Pada jalan selain fi sabilillah, selain jalan syahadah, selain perdagangan dengan Allah ta’ala. Orang yang paling beruntung adalah syuhada dan orang yang paling merugi mereka yang memperoleh dunia setelah kemuliaan jihad dan ridha dengannya, dan duduk di atas tempat sampah mengais-ngais sisanya menikmati makanan yang paling busuk.

Allahumma anugerahkan syahadah di jalan-Mu, temukan kami dengan orang-orang pilihanmu di dunia ini agar bersinar izah bagi umat dan dien.

Rahmat Allah pada asy-syahid Imaq Aqil dan sebaik-baik balasan dari Allah bagi penulis yang telah memelihara sirah kesatria ini.


Detail Publikasi:

Judul terjemahan: Imad Aqil; Mengapa Pemuda Hari Ini Membutuhkan Sosok Legenda, Bukan Sekadar Teori?

Penulis: Syeikh Umar Mahmud Abu Umar hafizhahullah

Penerjemah: Zen Ibrahim.

Naskah ini pertama kali diterjemahkan pada 2019 dan telah melalui proses revisi bahasa serta ejaan pada Desember 2023 untuk menjaga akurasi dan kenyamanan baca dan diupdate kembali akhir Januari 2026.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url