Migrasi Teologis, Membaca Fenomena Salafi-Jihadi dalam Balutan Akidah Asy’ariyah (Bagian Kedua)
Kelelahan terhadap Narasi Literalis
Selama bertahun-tahun, napas pergerakan “Salafi Jihadi” dipompa oleh narasi yang sangat tekstual, hitam-putih, dan sering kali kaku. Tema-tema selalu seputar aqidah, wala wal baro, takfir, thaghut, daulah, keamiran, jihad dan amniyah (keamanan pergerakan) yang memicu perdebatan tak berujung. Tidak sedikit perselishan itu memicu konflik dan perpecahan anggota serta jamaah.
Pendekatan literalis ini memang memberikan kepastian hukum dan semangat yang meledak di awal. Namun, bagi para aktivis yang telah menempuh perjalanan panjang, muncul titik jenuh dan krisis akhlak yang kadang sangat memprihatinkan. Ada semacam “kehausan intelektual” yang tidak lagi terpuaskan hanya dengan buku modul berisi kutipan-kutipan pendek dari kitab-kitab kontemporer yang disesuikan dengan manhaj jamaah.
Mereka mulai merindukan kedalaman turats (warisan klasik) yang lebih kompleks. Di sinilah letak celahnya: banyak dari literatur fikih, syarah kitab-kitab induk dan ilmu qiraat yang dipelajari di pesantren justru lahir dari tangan para ulama baraqidah asy’ari.
Ketika seorang aktivis mulai menyentuh kedalaman ilmu tersebut, ia sering kali mengalami keguncangan identitas. Ia merasa bahwa kedalaman ilmu hanya ada di “sana” (asy’ariyah), sementara lingkungannya saat ini dianggap hanya menyuguhkan narasi yang itu-itu saja.
Mereka mulai tidak cocok dengan kitab ulama Nejed yang disebut aliran Wahabi. Sementara, para “ulama salafi” gencar memperingatkan bahaya kelompok jihadiyin sehingga terjadilah persinggungan psikologis. Ulama asy’ari dianggap cocok karena tidak memiliki sejarah konflik pemikiran dengan mereka.
Pencarian Kedalaman Rasa (Tasawuf)
Manusia adalah makhluk rasa. Pergerakan yang terlalu fokus pada aspek politik, strategi, dan hukum-hukum perang sering kali mengeringkan dahaga spiritual penganutnya. Muncul rasa hampa; sebuah kehampaan yang kemudian mereka cari penawarnya pada tradisi tasawuf yang secara historis memang melekat erat pada lingkungan asy’ariyah.
Mereka mendambakan “kedekatan dengan Tuhan” yang lebih estetis dan tenang, jauh dari hiruk-pikuk perdebatan manhaj yang melelahkan. Sayangnya, pencarian kedalaman rasa ini sering kali menjadi pintu masuk bagi proyek [Sekularisme Cair]. Mereka mulai melunakkan prinsip-prinsip tegas dalam agama atas nama “kebersihan hati” dan “kedamaian universal”.
Ketika menyentuh Ihya, terobati segala kegersangan yang selama ini melara. Ditemukan kedamaian hati bersama pemikiran tasawuf lalu menyibukkan dirinya dengan penyucian hati.
Paradoks: Menemukan Ilmu, Kehilangan Ruh Perjuangan
Fenomena ini memunculkan sebuah paradoks yang menyedihkan. Seseorang mungkin menjadi lebih alim secara literasi setelah bermigrasi ke akidah asy’ariyah; ia hafizh ahli Quran, mantik, fikih dan keindahan sufisme. Namun, sering kali bersamaan dengan itu, ruh izzah (kemuliaan) dan semangat perlawanan terhadap kezaliman justru memudar.
Daya kritisnya tumpul karena ia telah masuk ke dalam ekosistem “penerimaan kehancuran dan kekalahan” yang disebut dengan istilah qobiliyah hazimah. Inilah konsep tasawuf menghadapi tekanan musuh yang mematikan insting perlawanan.
Konsep tasawuf tersebut dipinjam oleh DR. Majid Al-Kilani ketika mengajukan solusi Palestina dalam bukunya Hakazha Zhahara Jilu Shalahiddin wa ‘Adat Al-Quds. Buku tersebut bifadhlillah telah saya berikan resensi dengan judul Konsep Pendidikan dan Dakwah Al-Ghazali. Solusi dari DR. Majid pada Palestina adalah; menarik diri dari perlawanan kembali pada tarbiyah, dakwah dan tazkiyatun nafs.
Teori qobiliyah hazimah dipopulerkan oleh Malik bin Nabi dalam bukunya Al-Qobiliyah Al-Istimar. Telah dibantah argumennya oleh Ayahanda Syeikh Umar Mahmud Abu Umar hafizhahullah dalam buku Ahadits fi Fadhli Umati Muhammad shalllahu ’alaihi wassalam yang telah saya terjemahkan berjudul Syarah Hadits Keutamaan Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Inilah yang dikhawatirkan dalam teori institutional capture: ilmu bukan lagi digunakan untuk membebaskan manusia, melainkan untuk menjustifikasi ketertundukan. Dirinya terkooptasi hanya untuk melayani kepentingan sektoral atau pribadi dan meninggalkan umat.
– Zen Ibrahim hafizhahullah 28 Syaban 1447 H / 16 Februari 2026
Download buku saya di Internet Archive.
Download source code buku saya di Github.
.jpeg)